Sign up with your email address to be the first to know about new products, VIP offers, blog features & more.

[mc4wp_form id="5505"]

Winter in Seoul: Persiapan Musim Dingin dan Apply Multiple Visa Korea Selatan

By Posted on 0 9 m read 835 views

Winter in Seoul Blog Diary: Drama Visa, Tiket Pesawat dan Biaya Taterduga.

 

Wakakaka Namanya diary banget berasa Ratu gaksi? Abis bingung apa gitu ya judulnya. Etapi karena ini yang kepikiran sekarang, tar kalau kepikiran lagi aku ganti ya. Tapi kalimat pembukanya gak aku ganti ah. Hahahaha.

Anyway, where should I start ya tentang perjalananku ke South Korea ini? Ah, dari tiket pesawat dulu kali ya? Jadi, aku dapet tiket pesawat ke Korea Selatan ini tergolong beruntung karena dapet Cuma 3.2JT RETURN PAKE SINGAPOHHH AIRLINESSS! Yas, you hear it right. Kok bisa? Soalnya dikasih tau temen dan mendadak 15 menit kemudian langsung beli. Aku totalnya gak 3.2JT tok sih soalnya beli juga asuransi perjalanan just incase kan ya kak terjadi apa-apa.

 

Taman di Area Stasiun Hongik University Exit 6

 

Awalnya rencanaku ke Korea Selatan tuh tadinya awal Tahun 2020, either January or February. But my friend cancelled due to her permission of work, padahal udah chat agent perjalanan gitu buat pesan tiketnya, udah tinggal transfer malah. Untung gak diblacklist juga.

Di tengah kegalauan pergi Januari atau Februari, temenku yang lain telp dan kasih tau dia udah beli tiket ke Korea Selatan PP buat Desember 2019 dan dapetnya Cuma 3.2JT. JUJUR, aku sempet gak percaya karena temenku kan Gemini yah dan sering banget halu angka diatuh. Tapi karena diyakinkan sama temen-temen dia yang lain kalau emang bener harganya 3.2Jt, berangkatlah aku buka aplikasi Traveloka dan emang beneran segitu harganya, setelah dipotong voucher, harga sebenernya sih 3,7jt-an tapi pas bulan itu ada diskon promo International Flight sebesar 500K. Loph Traveloka banget pokoknya. Yaudah galau antara Januari atau Februarinya terselesaikan oleh tiket murah dari Singapore Airlines.

Pas beli itu sekitar Bulan Maret, jadi ada waktu kurang lebih 9 Bulanan buat nabung jajan di Seoul karena udah gak bisa minta orang tua. Hikseu.

 

Hae, Ahjussi. Maaf difoto, ya!

 

Memasuki Bulan November, mulailah sibuk buat apply visa. Mulai cari tahu ini dan itu. Meskipun pernah apply tapi Tahun ini jadinya degdegan karena statusku adalah pekerja lepas alias Freelancer dan bukti keuanganku kudu dipersiapkan secara mateng dari 3 bulan sebelum apply visa. That’s why aku sangat menjaga alur keuangan aku dan rajin-rajin bikin invoice setiap ada kerjaan. (meskipun invoicenya ditolak pas apply) cerita lengkapnya aku tulis di bawah pas apply visa, ya.

 

Awal November akhirnya aku memutuskan untuk ke Jakarta dan apply visa sendiri aka gak pake tour agent. Kenapa kok ribet urus sendiri ke Jakarta dan gak pake agent aja? Satu males, karena pernah pengalaman mau bikin visa di agent. Kedua, mereka emang nolak kalau status kita gak kerja di perusahaan. Wakakakaka.

Aku apply Visa tanggal 4 November dan di sinilah drama dimulai. Jadi, kalau apply visa pertanggal 1 Oktober sampe akhir Desember tuh lagi ada kebijakan baru dari Pemerintah Korea untuk warga Indonesia tentang biaya Visa. Yang biasanya harus bayar biaya sebesar Rp. 700.000 (Rp. 500.000 Visa + Rp. 200.000 admin), jadi cukup bayar biaya admin aja aka biaya visanya gratis. Awal mula denger udah seneng dan bisa simpen biaya visanya buat Airbnb atau buat jajan di sana. Mayan kan yah 500 ribu buat jajan. Dibudgetkan lah visa sebesar Rp. 200.000. Apply visanya sekarang udah gak di Kedutaan langsung, ya, tapi di Mall Lotte Kuningan.

Beres ambil antrian dan berkas udah siap semua, dipanggillah aku untuk kasih semua berkas yang aku punya. Pas kasihin berkas dan Mba-Mbanya lagi susun, aku degdegan takut ada yang kurang atau ada berkas yang gak valid. Lebih ke males buat urus-urusnya lagi sebenernya karena harus ke Tasik dulu dan ke Jakarta lagi. Lah, dan emang bener ternyata Mbanya bilang ada berkas yang gak Valid.

 

“Mas, ini invoicenya gak ada cap basah gitu, ya?”

“Gak ada, Mba. Kenapa emang, Mba?”

“Biasanya gak bisa sih kalau gak ada capnya, Mas?”

“Tapi, itu invoice sesuai dengan masuknya uangku ke rekening aku kok, Mba. Bisa dichek satu-satu dari Bulan Agustus ampe Oktober.”

“Iya, Mas. Tapi Kedutaan pasti gak akan chek ampe satu-satu. Jadi perlunya cap basah di invoice ini.”

“Wadu, jadi gimana, Mba? Ada solusi lain gak?”

“Bentar ya, Mas, coba aku tanya atasanku dulu.”

 

Sumpah degdegannya pol. Ampe tanganku rasanya gemeter padahal aku gak melakukan kesalahan apapun. Sambil nunggu Mbanya balik lagi, aku baca-baca flyer yang dipasang di kaca meja dan di sana tertulis kalau multiple visa perbulan September sudah tidak harus melampirkan bukti keuangan apapun. Aku dalem hati cuma ngangguk-ngangguk aja lumayan juga yah yang apply multiple gak ribet.

 

“Mas, ini gak valid kata atasanku. Dan karena Mas masih single dan satu rumah sama Ayahnya, Mas bisa gak minta rekening koran Ayah sebagai sponsor ditrip kali ini?”

“Waduh, Mba. Sepertinya gak bisa. Ayahku di Tasik dan harus urus ke Bank dulu. Nanti aku kirimnya pake apa? Ada solusi lain gak, Mba?”

“Mas ini usahanya apa?”

“Aku Food Blogger dan Food Photographer, Mba.”

“Ada bukti blog atau websitenya?”

“Ada, Mba. Instagramnya juga ada.”

“Paling harus melampirkan Screen Capture Blog/Instagramnya dan bikin statement letter kira-kira penghasilan perbulannya berapa.”

“Di rekening koran kan ada Mba pemasukanku perbulan berapa?”

“Iya, Mas. Tapi tetep harus ada statement letter biar lebih meyakinkan.”

 

Aku muter otak gimana caranya gak harus bikin statement letter karena males dan bingung harus print dan ketik di mana di mall begini.

 

“Mba, aku kan pernah ke Korea sebelumnya…..”

Belom beres aku ngomong, Mbanya langsung nyaut,

“Mas, mending langsung apply multiple aja. Lebih gampang dan lebih cepet. Gak harus provide bukti keuangan juga.”

“Aku credible emang Mba untuk dapet Multiple?”

“Credible, Mas. Kan udah pernah ke sana sebelumnya. Pengerjaan juga lebih cepet Mas Cuma 3 hari.”

“Biayanya berapa, Mba?”

“Rp. 1.400.000-an, Mas.”

Jeng-jeng-jeng. Aku mikir agak keras di sana. Karena tiba-tiba harus mengeluarkan uang tak terduga. Tapi kalau aku gak ambil ini, kemungkinan akan ribet dan takut ditolak untuk yang single entry.

 

“Ada kemungkinan ditolak gak, Mba?”

“Ada, Mas. Tapi rata-rata yang apply multiple biasanya granted, kok.”

“Yaudah deh, Mba. Aku apply yang multiple aja. Aku jadi gak harus provide data keuangan kan, ya, Mba?”

“Iya, Mas.”

 

Beres dari counter itu, aku diarahkan ke kasir untuk bayar dan pembayarannya gak bisa pake kartu. Cuma bisa pake uang kas dan aku cuma punya uang kas 400an karena di awal udah pede aja bayarnya Cuma 200. Long story short, akhirnya aku beres bayar dan disuruh nunggu 2 hari kerja aja ternyata bukan 3 hari, jadi aku masukin kan tanggal 4 November, nah tanggal 6-nya aku udah bisa bawa Visaku. Karena aku harus pulang ke Tasik besoknya, jadi pengambilan Visa aku titip ke temen karena dia tanggal 6 rencananya mau ke daerah Kuningan jadi bisa sekalian mampir ke Lotte.

 

From N Seoul Tower

 

Tanggal 6 nya sambil degdegan nunggu hasil, ternyata temenku kasih kabar bahwa dia gak bisa ambil Visaku hari itu. Dia bilang tar aja bareng sama punya dia di tanggal 14an. Tapi hati ini gak karuan dan pengen cepet-cepet tau statusku Granted atau Denied. Setelah baca-baca blog, ternyata pengecekan status visa bisa dari website kedutaan, yaudah aku coba chek ke sana dan masukan data yang diperlukan. Setelah hasilnya keluar, ternyata statusnya “Pasport Returned” which means aku gak tau status ku Granted atau Denied. Nelp-nelp ke KVAC gak ada yang angkat dan seharian itu rasanya males ngapa-ngapain. Hahahaha. Besoknya coba aku telpon lagi ke Call Centernya KVAC tapi nihil, Mbanya bilang dia gak bisa kasih tau status Visaku karena dia gak punya wewenang untuk buka passport-nya. Satu-satunya cara biar tau statusnya yaitu bawa passportnya ke KVAC. Aku tanya temen-temenku yang barengan apply, statusnya mereka masih “Under Review” dan jujur raku panik sendiri karena telat chek ke website. Dua hari dari situ, aku telpon lagi ke KVAC dan bilang mau tau status visaku ke Masnya. Tapi untungnya, Masnya hari ini kasih info yang sungguh bermanfaat. Katanya, kalau gak ada tulisan Denied dan Alasan di bawahnya, kemungkinan besar visanya approved/granted. Agak lega dikit meskipun masih deg-deg ser.

 

Kenapa kok mau tau cepet status visa? Karena mau belanja perlengkapan winter woy! Kalau jelas ditolak, yaudah gitu gak akan beli. Kalau udah ada statusnya, minggu itu mau ke Bandung dan beli perlengkapan biar langsung pas packing udah semua. Perlengkapan yang di beli aku mostly beli dari Uniqlo. Mulai dari Heattech atas dan bawahan, celana panjang, kaus kaki, syal, sarung tangan dan lainnya. Selain di Uniqlo juga aku dapet Coat dari H&M. Beberapa printilan lainnya aku beli di Marks and Spencer. Dan jujur aja nih ya, mendingan kalian beli dikit aja di Indonesia dan beli sisanya di Seoul. Karena jauh lebih murah dan banyak pilihan dibandingkan di sini. Aku ampe agak menyesal kenapa banyak banget beli perlengkapan di Indonesia. Mana pas di Busan, Heattech yang aku di Bandung ampir Rp. 400.000, di Busan cuma dijual 20.000W atau sekitar Rp. 250.000an. Kan lumayan yah. Coat juga lebih baik beli satu di sini dan sisanya mending di Seoul. Karena sebanyak itu yang jual coat bagus-bagus dengan harga lebih murah daripada di Indonesia. Satu Coat di Seoul bisa dapwt Rp. 700.000an. Di Indonesia aku beli rata-rata sejutaan lebih.

Sampai akhirnya tanggal 14 tiba, Visaku hamdallah di granted dan temenku langsung kirim foto visanya. Awalnya seneng, TAPIIIIIIII, namaku di Visa jadi terdiri dari 3 SUKU KATA! Sedangkan aku pesen tiket pesawat 2 SUKU NAMA.

 

Aku baru inget kalau aku pernah nambah nama buat Umroh dan aku gak ngeh sama sekali setelah foto visa itu. Mulailah panik dengan tiket pesawatku gimana, langsung cari-cari di Google dan nemu satu artikel yang kejadiannya sama kayaku, dia gak ngeh ampe pas chek-in di Bandara tapi untungnya dia masalahnya beres di sana karena petugasnya cepat tanggap. Aku jadi panik sendiri dan coba tanya ke Traveloka masalah ini. Tapi respon dari Traveloka kurang meyakinkan jadi aku cepet-cepet telpon ke Call Centernya SQ dan pas aku cerita masalahku, dia bilang harus ada penambahan nama juga di tiketnya karena pernah kejadian dan sama pihak imigrasi negara tujuan dipulangkan. WOW, this can not happened to me. Not after all those savings and visa drama. Aku langsung tanya aja gimana prosedur penambahan nama dan biayanya berapa.

 

Mba: “Bapak bisa datang langsung ke kantor SQ Jakarta maksimal satu hari sebelum keberangkatan atau bisa menghubungi agent Bapak memesan tiket. Untuk biyanya sebesar Rp. 1.500.000.”

 

*lemes *shock *apa lagi ini??????

 

Aku: “SATU JUTA SETENGAH UNTUK SATU TIKET?”

 

Mba: “Itu biaya totalnya, Bapak,”

 

Aku: “Baik, Mba. Terima kasih informasinya. Saya coba melalui Traveloka dulu. Kalau Traveloka susah dan lama, kemungkinan H-2 saya ke kantor.”

 

Karena males telpon Traveloka, aku akhirnya coba fasilitas chat dengan CS di aplikasinya. Thank God and Traveloka, masalahnya beres less than 24 hours meskipun harus keluar lagi uang tak terduga. *nangissssss

 

Seoul From Above

 

Beres dengan drama Per-VISA-an dan Per-TIKET-an, kini saatnya cerita tentang penginepan selama di Seoul dan Busan di trip kali ini. Aku berangkat dari Jakarta tanggal 4 Desember dan pulang tanggal 14, which means aku 11 hari 10 malem di Korea yang sekarang. 8 hari di Seoul dan 3 Harinya di Busan. Aku berangkat sebenernya banyakan tapi misah-misah, total yang ke Korea pas tanggal aku di sana pokoknya ada 9 orang. Tanggal 4 itu aku berangakat sama 2 temenku duluan, 4 temanku nyusul di Tanggal 7 dan 2 lagi nyusul di tanggal 9.

Jadi kalau diurut penginepan selama di Seoul dan Busan:

 

Tanggal 4: Airbnb, Near Hongik Station Exit 6, Bertiga sama temenku,

Tanggal 5 – 7: Airbnb di Busan, sendirian,

Tanggal 7 – 12: Airbnb di Hongik, berlima,

Tanggal 13: Airbnb, Hongik, sendirian

Tanggal 14: Airbnb, Hongik, sendirian

 

 

Sebulan/dua bulan setelah beli Tiket Pesawat Promo itu, aku karena anaknya terlalu inisiatif, iseng cari penginepan via Airbnb dan nemu penginepan yang enak di Hongdae, dibilang di profilenya sih cuma 3 menit jalan kaki dari Hongik Station Exit 2. Masalah lokasi, aku udah cocok tinggal di Hongdae karena deket kemana-mana dan di Stationnya ada Kereta Bandara gitu jadi bisa langsung naik kereta dari dan ke Bandara di sini. Selain itu, di Hongik Station juga ada Line 2 yang menurutkuku enak dan gampang buat keliling Seoul. Alasan lainnya of course karena ini daerah University jadinya makanan di sekitar juga gak begitu mahal. Jadi, memang dari awal memutuskan untuk tinggal di Hongdae aja. Temen-temenku yang lain pun iya-iya aja ngikut aku.

 

Merasa cocok dengan lokasi, harga dan juga kapasitas kamar yang buat 5 orang, aku kirim lah si penginepan ini di Group Whatsapp temen-temenku untuk tanggal 7 Desember – 12 Desember. Saat itu, harganya total perorangnya cuma 1jtan untuk 5 malem di Seoul. Mayan banget, keitungnya cuma 200K permalem. Tapi temenku bilang untuk booking nanti aja pas udah deket tanggal berangkat, at least sebulan sebelum berangkat. Long story shot, pas beres terima visa, kita iseng chek Airbnb dan……., sold out! NANGIS. ;((

 

Dari pas terima visa, ribetlah kita cari penginepan, karena pas dichek banyak banget yang udah full booked. Kita kekeh mau di Hongdae dengan Budget gak jauh dari Airbnb sebelumnya. Karena takut keburu penuh dan makin mahal, kita sepakat buat pesen Airbnb yang di profilenya bilang gak jauh dari Exit 4. Dibilangnya Cuma 5 menit jalan dan pas dichek profilenya lumayan juga lengkap ada dapur dan lain-lain, plus ini entiry apartment, bukan private room gitu. Yaudah Airbnb aman dan semuanya udah lengkap. Tinggal berangkat aja!

 

Mari lanjut di Cerita Seoul Day 1!

Ewha Woman’s University

 

Share this article

No Comments Yet.

What do you think?

Your email address will not be published. Required fields are marked *